Sebelum melakukan proses editing, seorang editor harus memahami ide dari keseluruhan cerita yang akan disajikan,

– Tema dasar cerita
– Plot/alur ceritanya (perkembangan cerita dari awal sampai akhir)
– Apa yang kita harapkan dari penonton untuk ikut merasakan dan mengalaminya
– Memilih apa yang penting dan membuang apa yang tidak penting dalam konteks keseluruhan cerita.
– Apa pesan utama dari program yang akan kita sajikan

Syarat utama dalam editing adalah kesinambungan gambar dan suara sekaligus. Harus diperhatikan pula kesinambungan irama dari adegan, hubungan antara shot yang satu dengan shot berikutnya, dengan bermacam variasi komposisinya. Penonton diharapkan mampu menangkap hubungan bermacam-macam shot, scene dan sequence, memahami loncatan-loncatan waktu dan ruang yang terjadi dalam keseluruhan cerita.

POST PRODUCTION EDITING

Post production editing, adalah suatu proses editing dimana adegan-adegan yang telah direkam lebih dahulu pada pita video (original) dipilih dan disusun ke dalam satu pita video lain sebagai master program. Untuk editing kita butuhkan paling tidak 2 buah Video Cassette Recorder, 1 VCR sebagai PLAYER untuk memutar hasil rekaman (original tape), 1 VCR yang lain sebagai RECORDER untuk merekam hasil editing atau master tape, dan 2 buah televisi monitor untuk melihat gambar yang kita pilih untuk diedit (bahan) atau yang telah kita edit (master). Untuk pengisian suara announcer, musik atau dubbing tentu saja kita masih harus melengkapi dengan peralatan sound.

Pelaksanaan Editing
1. Workprint dengan Time Code
Membuat workprint atau copy dari pita original (dengan menyertakan display nomor time code) ke kaset yang lain. Workprint ini digunakan untuk cataloging (logging – pencatatan) dan membuat rough cut (potongan kasar) apabila dibutuhkan tanpa resiko merusak original tape.

2. Logging, Transcript dan Scoring
Melihat semua hasil shot yang telah direkam dan mencatat didalam log sheet.
– mencatat nomor time code
– memberi nomor urut shot atau take
– mencatat nomor shot atau scene dengan shooting script
– panjangnya shot (menit:detik:frame)
– jenis framing, komposisi, camera movement
– deskripsi adegan

Transcript
Membuat transkripsi dialog atau wawancara

Scoring, memilih shot-shot yang paling baik, biasanya kita beri tanda “GOOD” atau “OK”, memberi catatan pada shot-shot alternatif, kemudian mencocokkannya dengan shooting script, memberi tanda pada dialog atau wawancara yang akan dipergunakan.
Hasil logging dan scoring ini kita pergunakan sebagai bahan untuk menyusun editing script

Catalog Sheet
Program :
Judul :
Lokasi :
Tanggal :
Halaman :

PITA NOMOR TIME CODE SCENE/SHOT TAKE DESKRIPSI SHOT CATATAN
VIDEO AUDIO
3. Editing Off-Line
Editing off-line bisa dilakukan dengan 2 cara :

Editing Off-Line on Paper
Editing off-line yang paling sederhana adalah dengan editing on paper, dimana kita menuliskan shot demi shot yang telah dipilih ke dalam satu scene, lengkap dengan nomor-nomor time codenya baik sebagai titik in (shot mulai) maupun titik out (shot berakhir).

Editing Off-Line on Tape
Editing off-line cukup dengan mempergunakan 2 buah alat Video Cassette Recorder yang sederhana, yang dilengkapi dengan tombol jog/shuttle untuk melihat gambar frame demi frame. Dengan bahan workprint, log sheet, shooting list atau shooting script kita bisa menyusun (potongan shot-shot kasar) tanpa special effects, title maupun grafik. Hasil dari potongan kasar ini kita namakan “rough cut”. Dari rough cut ini kita bisa mencatat rangkaian shot kasar tadi dengan disertai angka-angka time code ke dalam editing script. Pada editing script ini harus dituliskan juga special effects yang diperlukan.

EDITING SCRIPT
PROGRAM :
TITLE :
HALAMAN :
EDIT NO TIME CODE TRANS VIDEO AUDIO DURASI

4. Editing On-Line, Fine Cut
A/B Roll
Disini pita master editing disusun sebagai suatu master program yang akan disiarkan. Untuk menyusun editing on-line atau fine cut kita gunakan editing script. Dengan peralatan editing control kita masukkan data-data editing script ke dalam Edit Decision List (EDL) lengkap dengan berbagai special effectsnya ke dalam komputer.
Peralatan yang dibutuhkan didalam editing on-line, adalah 3 Video Cassette Recorder, 2 TV monitor, dan audio unit, editing control unit, special effects generator atau DVE (Digital Video Effects), dan character generator.

5. Mixing
Sekarang pita master program sudah selesai, kita lakukan proses mixing, dengan mencampurkan berbagai macam jenis audio yang mendukung program tersebut, seperti original sound (suara asli, sound effects, narasi, ilustrasi musik, dll).

PRINSIP-PRINSIP EDITING

 Jangan menyambung 2 shot dari obyek yang sama dalam format yang sama besarnya (jenis shot yang sama). Dua shot yang berurutan dengan format yang sama besar sering menghasilkan jump cut. Misalnya cutting dari Medium Shot (MS) ke Medium Shot (MS). Atau dari Long Shot (LS) ke Long Shot (LS) pada obyek yang sama. Apabila menyambung satu shot ke shot berikutnya, hendaknya shot kedua diambil dengan framing yang berbeda dari camera angle yang berbeda pula. Perubahan camera angle akan membantu mencegah jump cut.

 Walaupun esensi dari televisi adalah penyajian gambar dengan close up, jangan mengabaikan fungsi long shot. Terlalu banyak close up akan membosankan juga. Karena mata butuh pergantian suasana. Disamping itu, dengan long shot yang mengambarkan keseluruhan setting penonton akan memperoleh gambaran tempat dimana peristiwa itu terjadi.

 Sesudah beralih ke suatu adegan baru, berilah Long shot dari adegan tersebut. Ini akan memberi penjelasan kepada penonton dimana peristiwa itu terjadi.

 Begitu juga apabila “tokoh baru” masuk atau “tokoh” yang agak lama tidak muncul, buatlah close up dari “tokoh” itu. Apabila ada satu tokoh baru masuk, penonton secara naluri ingin tahu siapa dia, seperti apa dia ?

 Jangan menyambung 2 shot dari obyek yang sama dalam jarak yang ekstrim. Misalnya cutting dari Extreme Long Shot (ELS) ke Extreme Close Up (ECU), hal ini akan membuat penonton sulit mengenali obyek yang kita maksudkan. Perpindahan dari ELS ke ECU apabila dilakukan dengan zoom in akan mudah diikuti oleh penonton.

 Hal yang sama akan terjadi apabila kita membuat cutting dengan perpindahan camera angle yang ekstrim, sehingga menyebabkan penonton kebingungan dengan arah pandangan yang berlawanan dari obyek yang sama. Shot-shot ini biasanya dihasilkan oleh camera angle yang berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain dari “garis axis”. Garis axis adalah garis imajiner yang menghubungkan 2 orang yang saling berhadapan. Gerakan dengan arah tertentu juga akan membentuk garis imajiner. Misalnya untuk menyambung close up atau pun over shoulder shot dari satu orang ke orang lainnya yang saling berhadapan kita tempatkan kamera pada salah satu sisi dari garis axis tadi. Cara ini adalah untuk menghindari “crossing the line”

 Jangan memotong ditengah-tengah shot pada saat kamera bergerak (panning atau zooming). Sambunglah di titik awal atau akhir dari panning atau zooming (saat kamera berhenti). Tetapi kadang-kadang goyangan dari pan atau zoom dapat digunakan sebagai titik editing.

 Jangan membuat cutting diantara dua kamera yang bergerak terutama kamera panning, atau diantara satu kamera yang bergerak dan kamera statis. Cut diantara 2 kamera yang bergerak membuat efek yang tidak enak bagi mata. Kekecualian dalam hal ini apabila kedua kamera panning dengan arah dan kecepatan yang sama. Misalnya cut dari panning shot sebuah mobil yang berjalan dengan kecepatan dan arah tertentu ke panning shot sebuah mobil lain yang berjalan dengan kecepatan dan arah yang sama. Atau cut dari long shot mobil yang berjalan ke close shot mobil yang sama. Kekecualian yang lain adalah cutting ke camera panning dalam action yang bergerak dengan cepat. Ini cenderung untuk meningkatkan tempo dan perhatian. Tentu saja ini hanya dilakukan dalam situasi tertentu.

 Lakukanlah selalu cut on movement (cut gerakan) : cutiing pada saat obyek dalam gerakan (acting) duduk, bangkit, berbalik, memutar. Bahkan dalam close up cutting akan lebih baik di saat kepala sedang bergerak, menengok, mengangguk misalnya. Buatlah cut selama saat gerakan obyek jangan sebelum atau sesudahnya. Misalnya : jika kita telah membuat close up dari seseorang yang baru bersiap-siap untuk berdiri dari kursi, buatlah cutting shot yang lebih besar (long shot) tepat sesudah dia mulai berdiri, bukan sebelum dia berdiri. Suatu cut dari obyek yang bergerak apabila dikerjakan secara tepat akan nampak halus dan tidak akan dirasakan oleh penonton. Cut diantara obyek-obyek statis cenderung lebih mengganggu daripada apabila salah satunya dalam gerakan.

 Dalam suatu interview, cut biasanya kita lakukan pada akhir dari pertanyaan atau jawaban, karena cutting pada akhir dari suatu kalimat atau prasa (anak kalimat akan menghasilkan suatu irama yang jelas daripada ditengah-tengah. Walaupun demikian, reaction shot akan lebih halus apabila terjadi selama dialog, lebih baik daripada akhir ucapan atau kalimat. Dalam hal ini, jika seseorang bergerak sambil mengucapkan dialog, buatlah cut on movement. Jangan tunggu sampai pemain menyelesaikan satu kalimat. Cut on movement dari action biasanya lebih kuat motivasinya daripada cut on dialog.

 Buatlah cut, dissolve (mix) dan fade, sesuai dengan irama musik atau komentar, buatlah cut atau fade out musik hanya pada akhir kalimat musik, jangan ditengah-tengah. Sangat menyakitkan telinga apabila musik dihentikan sebelum irama dan tempo.

Seperti yang telah kita ketahui produksi televisi adalah suatu proses kreatif yang melibatkan koordinasi banyak orang dari berbagai divisi yang berbeda, demikian juga editing mempunyai kaitan erat dengan materi atau output pekerjaan banyak orang dari berbagai divisi selama proses produksi, mulai dari

1. ketersedian stock shot yang cukup dan baik dari juru kamera, sesuai dengan kebutuhan sebuah program,
2. content program yang menarik dari penulis naskah atau tim kreatif,
3. voice over yang sesuai dan,
4. waktu yang disediakan untuk menyelesaikan sebuah program,

itu semua akan sangat mempengaruhi hasil akhir dari sebuah proses editing, tetapi ibarat makanan, bahan-bahan mentah yang baik itu tidak akan menjadi makanan yang enak ditangan koki yang tidak handal, hidangan terasa hambar rasanya, bahkan lebih parahnya lagi hidangan itu gagal untuk disajikan, dan apabila itu terjadi dapat dibayangkan kerja keras dari semua crew yang terlibat mulai dari pra produksi sampai dengan proses produksi serta anggaran biaya yang telah dihabiskan akan terbuang sia-sia.

Dari deskripsi diatas bisa terungkap tugas dan tanggung jawab editor begitu penting dan berat, karena pada tahap pasca produksi inilah tempat bermuaranya semua materi hasil pekerjaan dari banyak orang didivisi yang berbeda diramu menjadi sebuah program yang utuh dan jelas lalu menyajikannya menjadi tayangan yang menarik dan enak ditonton, Dan karena itulah dibutuhkan sumber daya–sumber daya manusia yang memiliki mental dan pribadi yang kuat untuk dapat bekerja sebagai editor di stasiun tv,

 sanggup bekerja dibawah tekanan yang besar,
 dapat bekerja dengan banyak orang dari berbagai divisi serta,
 mampu mengambil keputusan-keputusan penting dalam pekerjaan terutama untuk program-program dengan deadline waktu yang sempit.

Pengetahuan tentang hardware dan software editing mutlak dimiliki sebagai salah satu persyaratan utama menjadi seorang editor, karena tanpa pengetahuan yang cukup tentu saja seorang editor tidak akan dapat melakukan proses editing dengan baik, walaupun kendalanya adalah sampai saat ini belum ada standarisasi pemakaian hardware dan software editing yang digunakan di setiap stasiun tv ataupun rumah-rumah produksi, dan ini tentu saja sering menyulitkan seorang editor yang baru pindah dari tempat lamanya bekerja, mereka membutuhkan waktu beradaptasi dalam pemakaian hardware dan software yang berbeda untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Dengan menguasai hardware dan software editing apakah seseorang sudah dapat dikatakan menjadi seorang editor ?, tentu saja belum, yang tidak kalah penting dan sering dilupakan orang adalah seorang editor juga harus memiliki pemahaman tentang sinematography

reference : pak Ronald(dasar produksi)
by putri dwi f

Pelaksanaan Produksi

July 3, 2009

Pelaksanaan Produksi
Produksi suatu program sesungguhnya mungkin hanya makan waktu 30 menit, tetapi ini hanya bagian kecil dari keseluruhan proses produksi. Jauh sebelum kita masuk ke studio dan control room, program harus direncanakan dan dipersiapkan secara rinci.

Pelaksanaan pogram umumnya dibagi menjadi 4 tahap :
1. Pra produksi.
2. Set up peralatan dan latihan
3. Produksi
a. Produsi Lapangan
ENG (Electronic News Gathering) – Produksi Berita Elektronik
Proses rekaman video jenis berita dengan menggunakan peralatan yang mudah dibawa (portable) misalnya kamera VCR portable dan 1 mikrofon, dengan crew seorang juru kamera disertai seorang sutradara yang sekaligus merangkap sebagai reporter.

EFP (Electronic Field Production) – Produksi Lapangan Elektronik
Sama dengan ENG, hanya jenis program yang diproduksi adalah dokumenter, sinetron (film style)

MCR (Multi Camera Remote)
Produksi Lapangan dengan mempergunakan kamera lebih dari 1, dengan switcher, beberapa monitor, sound audio sistem. Produksi yang direkam adalah sinetron, musik, olah raga, dsb.

b. Produksi Studio
 Live – Program disiarkan secara langsung, tahap produksi merupakan tahap akhir dalam proses. Kebanyakan program-program berita, olah raga, upacara kenegaraan disiarkan secara langsung.

 Video Taping – (direkam dalam pita video)

 Live on Tape – Produksi berlangsung terus tanpa terhenti, sampai akhir program, editing hanya dalam hal-hal khusus (insert editing).

 Direkam per bagian (segment)
 Direkam dengan single camera – single VCR (film style)
 Direkam dengan multi camera – multi VCR

4. Pasca Produksi
 Studio strike – semua peralatan/setting dibongkar
 Video Tape Editing
 Audio sweetening/dubbing
 Evaluasi Program

Dilihat dari ilustrasi diatas hampir seluruh jenis produksi yang ada di tv baik dilapangan maupun di studio melalui tahapan pasca produksi atau proses editing, bahkan tidak hanya departemen news serta departemen produksi saja yang memiliki kebutuhan editing, departemen promosi dan departemen marketing & sales juga memiliki kebutuhan yang sama. Oleh karena tingginya kebutuhan editing di tv, maka divisi post production khususnya editing termasuk salah satu divisi yang memiliki sumber daya manusia yang besar di stasiun tv.

Secara internasional dikenal tiga
kategori presenter berita yaitu:
pembaca berita (newsreader)‏
penyiar berita (newscaster)‏
jangkar berita (newsanchor)‏

Andrew Boyd:
Newsreader:
Penyaji berita yang disebut “Pembaca Berita” tampil lebih menekankan kekuatan berita dari pada aspek-aspek pribadinya (tidak memfokuskan pada penampilan fisik atau sifat pribadinya / memiliki otoritas terbatas untuk memberi warna dalam menyajikan berita), sehingga hanya membaca berita & tidak melakukan wawancara & tidak menjadi “bintang” dalam program berita tersebut. Penampilan : Formal & Serius. (Tradisi BBC Inggris).

Newscaster:
Disamping membaca berita Newscaster juga melakukan peliputan di lapangan, sekaligus melakukan laporan langsung dari lapangan. Jadi, Newscaster juga melakukan wawancara ketika menyajikan berita.
Dengan otoritas yang dimiliki terhadap isi berita, aspek-aspek pribadi Newscaster lebih muncul di bandingkan Newsreader, meski tetap harus menjaga wibawa & formal. (Tradisi BBC Inggris)

NewsAnchor:
Istilah Anchorman berasal dari Amerika, penyaji berita yang menekankan kekuatan aspek-aspek kepribadiannya & otoritas yang kuat untuk menonjolkan keahliannya, sebagai kombinasi dari pengalaman, karakter kepribadian & karisma.
Dengan tradisi Hollywood yang dimiliki Amerika, TV Anchor adalah bintang dari program berita TV dengan menekankan penampilan fisik, pendekatan yang hangat & santai / dekat kepada pemirsa.

reference : newscasting announcing
by putri dwi f

Karir Sebagai Penyaji Berita TV
Syarat karir Penyaji Berita TV, terutama Newscaster & News Anchor harus dimulai dari jurnalis TV atau Reporter TV, karena kematangan, kredibilitas serta profesionalisme Penyaji Berita TV Harus di mulai dengan menguasai & memiliki pengalaman jurnalistik di samping berbagai prasyarat fisik & kepribadian
Mempersiapkan diri menjadi Penyaji Berita TV tidak bisa dalam 1-2hari, karena stasiun Tv akan sangat menggantungkan / mengandalkan keberhasilan bisnis & program beritanya dapat di terima publik, pada seorang penyaji berita.
Karena kemampuan, keahlian dan sejumlah kelebihan-kelebihannya (intelektualitas, fisik, kepribadian, dsb) serta citra diri yang harus di jaga, maka Penyaji Berita TV memiliki karir yang baik di stasiun TV, baik dari segi gaji maupun tunjangan-tunjangan lain.
Semakin populer seorang Penyaji Berita, semakin tinggi gaji dan semakin besar tunjangan-tunjangannya, serta semakin luas mendapatkan akses untuk meningkatkan kemampuan pribadi maupun jaringan sosialnya.
Seorang Penyaji Berita yang sudah terkenal dapat di kategorikan juga sebagai celebrity atau pembuat berita, dan dapat disebut juga sebagai ICON atau Brand Image, baik bagi program yang dibawakan maupun bagi stasiun TV tempatnya bekerja
Tanggung jawab Penyaji Berita TV
Penyaji Berita TV bertanggung jawab menjadikan program berita yang dibawakannya diterima & digemari publik, dan menjadi referensi bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan informasi.
Penyaji berita bertanggung jawab mulai dari mengantar & membuka program berita, menyajikan berita, termasuk melakukan wawancara dengan narasumber, melakukan live reporting dari lapangan, hingga menutup program berita.
Penyaji Berita juga bertanggung jawab menjaga program yang dibawakan berlangsung baik, lancar, dan efektif, terutama dalam program live / langsung.
Penyaji Berita harus menjaga profesionalitasnya mampu mengendalikan suasana apapun, bahkan apabila narasumber ataupun koresponden berita melakukan hal-hal tidak terduga.
Penyaji Berita khusus haruslah memiliki kemampuan & Keahlian dalam menganalisis masalah, baik dengan cara melakukan riset, bertemu nara sumber, rapat & diskusi dengan produser, maupun menulis skrip sendiri
Sebagaimana sifat berita yang begitu dinamis & berkembang cepat, seorang Penyaji Berita juga bekerja dengan waktu yang tidak reguler / teratur. Apabila terjadi peristiwa mendadak / bencana seorang Penyaji Berita kapan pun harus siap menyajikannya, baik dari lapangan maupun studio. Kadang Penyaji Berita harus berada berhari-hari di sebuah lokasi bencana. Kadang harus bekerja tengah malam ataupun akhir pekan
Penyaji Berita mewakili organisasi / perusahaan tempatnya bekerja, setiap kali tampil di muka publik, sehingga meski ia bersikap sebagai pribadi dalam lingkungan pribadi, Peyaji Berita harus bertanggung jawab menjaga perilakunya yang penuh sopan santun dan beretika.
Penyaji Berita juga bertanggung jawab menghadiri dan mengikuti serangkaian acara-acara atas nama perusahaan, terutama dalam promosi program, acara penggalangan dana/sosial, dan acara-acara dengan masyarakat
Penyaji acara / program TV umumnya memiliki tanggung jawab yang sama seperti Penyaji Berita. Terutama dalam kaitannya di hadapan publik. Namun bagi Penyaji Berita kredibilitas dan citra diri adalah menjadi bagian yang paling penting harus di jaga.
Sebesar apapun otoritas yang diberikan kepada Penyaji Berita dalam membawakan program, yang memungkinkan dapat menonjolkan karakteristik pribadi / personalities, ia haruslah bersikap kredibel & dengan acara musik atau variety show yang dapat lebih rilex dengan bahasa yang rilex pula

TAHAPAN MANAJERIAL KARIR dalam INDUSTRI TV

1. Rekrutmen dengan lowongan terbuka, melakukan seleksi, dan pemagangan
2. penempatan SDM pada posisi yang tepat sesuai kemampuan dan minatnya
3. perhargaan atas tugas yang dilakukan secara SDM secara periodik dalam bentuk bonus, kenaikan gaji atau kenaikan jenjang karir
4. pengembangan wawasan dan ketrampilan melalui berbagai seminar dan pelatihan reguler secara internal atau mengirim ke lembaga luar
5. pemberhentian jika SDM tidak lagi mampu memenuhi target pekerjaan yang telah ditentukan

Kata kreatif sering digunakan oleh para pengguna bahasa baik untuk tujuan positif maupun negatif. Dalam konteks pembuatan iklan, tentu saja kata kreatif dipakai untuk tujuan positif. Dalam hal ini kata kreatif diartikan sebagai “suatu kemampuan seseorang (atau sekelompok orang) yang memungkinkan mereka menemukan pendekatan-pendekatan atau terobosan baru dalam menghadapi situasi atau masalah tertentu — yang biasanya tercermin dalam pemecahan masalah — dengan cara baru dan unik yang berbeda dan lebih baik dari sebelumnya (Creative Education Foundation).

Kata kreatif merupakan kata yang sangat umum digunakan dalam dunia iklan. Dalam hal ini proses kreatif mencakup pelaksanaan dan pengembangan konsep ide yang dapat mengemukakan strategi pasar dalam bentuk komunikasi yang efektif. Termasuk di dalamnya adalah membuatan headline, perwajahan, naskah; baik dalam bentuk kopi untuk iklan media cetak, script untuk iklan radio, dan storyboard untuk iklan televisi.

Secara garis besar proses kreatif yang dipaparkan berikut ini disadur dari pendapat Chistoper Gilson dalam bukunya Advertising: Concept and Stragies (via Kasali,1995). Menurutnya proses kreatif dalam pembuatan iklan terdiri dari tiga tahap.

Tahap pertama

Copywriter mengolah Marketing Brief dari pengiklan atau klien. Marketing brief atau “taglimat pemasaran” ini dibuat oleh klien yang berisi penjelasan mengenai data-data tentang produk, strategi pemasaran, dan persaingan di pasar.

Namun demikian, copywriter harus menambahkan informasi lain dari berbagai pihak. Dapat dilakukan riset pribadi dalam skala kecil: ke pasar, toko, supermarket untuk melihat bagaimana produk tersebut di pasaran. Wawancaralah konsumen pemakai, bagaimana komentar mereka. Jika mereka puas, tanyalah apa yang menyebabkan puas. Jika mereka tidak puas, tanyalah mengapa tidak puas. Hal ini dilakukan agar copywriter memperoleh informasi dari berbagai pihak.

Jika klien adalah perusahaan yang memiliki banyak dana, Anda dapat mengajukan anggaran untuk research. Anda dapat bekerja dengan departemen research dan monitoring dalam departemen di biro iklan.

Tahap Kedua

Berdasarkan marketing brief yang dibuat oleh pengiklan, dan berdasarkan reasearch yang dilakukan oleh copywriter, maka untuk memudahkan pekerjaan disusunkan sebuah creative brief atau brief kreatif.

Copywriter harus “membenamkan” diri mereka ke dalam informasi-informasi tersebut, untuk menetapkan posisi atau platform dalam penjualan serta menentukan tujuan iklan yang akan ditetapkan. Kedua hal ini akan dapat memberikan gambaran yang jelas kepada orang-orang kreatif mengenai cara yang paling efektif, berikut berbagai kendalanya, untuk mengkomunikasikan posisi tersebut dengan sebuah pesan iklan yang dapat ditangkap secara efektif oleh konsumen.

Dalam tahap ini copywriter akan mengolah kekuatan ataupun kelemahan produk dibandingkan produk pesaing. Kemudian, Anda sebagai copywriter harus yakin akan keistimewaan produk tersebut. Akan sulit bagi kita untuk mempengaruhi calon konsumen untuk membeli dan menggunakan produk yang akan kita iklankan jika kita sendiri kurang yakin akan keunggulan atau keistimewaan produk yang kita tawarkan.

Anda harus mengenal luar dalam produk tersebut termasuk pesaingnya. Bila perlu coba sendiri produk tersebut dan bandingkan dengan produk lainnya dalam kategori kompetitor. Bila perlu mintalah kepada sample sasaran untuk mencoba produk tersebut. Kemudian, tanyailah komentarnya setelah dia mencoba produk tersebut.

Marketing brief yang dibuat oleh klien harus dibandingkan dengan penelitian yang Anda lakukan sendiri. Bila ada kelemahan dibandingkan saingannya, apa kira-kira kompensasi untuk kelemahan itu. Jangan mengada-ada. Tugas seorang copywriter adalah meminimalisasi kelemahan dan memaksimalkan kelebihan. Jangan menipu konsumen. Dalam penyampaian pesan dapat dilakukan dengan dramatisasi; namun, tidak dengan berbohong. Dramatisasi adalah memberikan informasi yang benar dengan cara melebih-lebihkan sifat atau keadaannya, dengan maksud untuk menarik perhatian sasaran (konsumen). Lebih jauh lagi, penyampaian itu bersifat menghibur.

Dramatisasi bukanlah berbohong. Tindak kebohongan dilakukan dengan memberikan informasi yang tidak benar sebagai sesuai yang benar dengan tujuan mengecoh, menipu, atau memperdaya sasarn (konsumen).

Hasil pengolahan yang mendalam dan tepat dari marketing brief dan research menyebabkan orang kreatif dapat menentukan kepada siapa komunikasi pesan itu akan disampaikan atau yang disebut dengan target audience. Hal ini mempengaruhi penggunaan bahasa, waktu muat/tayang, dan media yang dipakai untuk mengkampanyekan iklan.

Sebagai contoh, untuk produk makanan anak yang memiliki banyak kompetitor, iklan harus mampu menggunakan bahasa yang berbeda dari bahasa yang dipakai oleh iklan lain, bahasa itu juga harus tepat untuk anak-anak. Hal ini mempengaruhi media dan waktu pemuatan/penayangan.

Pada dasarnya, marketing brief yang dibuat oleh pengiklan, dan reasecrh yang dilakukan oleh copywriter harus diolah. Untuk memudahkan perkerjaan berikutnya, disusunkan apa yang disebut dengan creative brief atau brief kreatif.

Brief kreatif ini, meliputi:
GAMBARAN PROYEK

Klien : data diri yang otentik tentang klien, meliputi nama, alamat, no telpon, faks
Ruang lingkup

Usaha : data umum tentang usaha yang dijalankan klien

Produk : apa yang dihasilkan dari klien

Batas waktu : Setelah batas waktu diketahui, dapat dengan mudah disusun jadwal

terhadap proyek
TIM KERJA

Account Executive : wakil dari Departemen Layanan Klien

Creative Director : Pengarah Kreatif , pemimpin departemen Kreatif

Copywriter : Penulis naskah iklan

Art Director : perencana tampilan visual yang dikolaborasikan dengan

teks

Objektivitas : Hal-hal apa sajakah yang akan dikomunikasikan iklan sesuai

kesepakatan dengan pengiklan
KETERANGAN PRODUK

Bentuk promo : penjelaskan tentang benda promo yang dikehendaki seperti iklan media

cetak, iklan radio, iklan televisi, kalender, dsb.

Non fisik : penjelasan mengenai kekuatan non fisik yang hendak ditonjolkan demi

keberhasilan sebuah iklan. Misalnya, gengsi, kebanggaan kelompok, kesan

intelektualitas, selera rasa yang tinggi, dsb.

Fisik : penjelasan mengenai kekuatan fisik yang terdapat pada produk dan

disepakati akan dikampayekan. Misalnya : kekuatan, masa usia pakai

yang lama, anti karat, anti bocor, tanpa bahan pengawet, dsb.

Positioning : posisi produk di tengah banyaknya komuniaksi iklan

Diferensiasi : ciri khas produk yang membedakan dengan produk lain

Arah pasar : arah pasar yang hendak disasar, regional, nasional, internasional

Selling point : kelebihan produk yang membedakannya dengan konpetitor

KONSUMEN

Rasional : alasan logis konsumen menggunakan produk: nilai guna, waktu

penggunaan yang tepat, dll.

Emosional : alasan emosi konsumen menggunakaan produk: kebanggaan,

ekslusifitas, keingginan untuk dihargai, kepercayaan diri, dll.

Target audience : kelompok sasar yang hendak dituju oleh promosi yang dijalankan

Strategi pendekatan : penentuan strategi didasarkan pada reaserch: apakah akan dari aspek

emosional atau rasional.

Cara komunikasi : konsep komunikasi tampilan iklan, baik dari sudut desain, visual, layout, tipografi, gaya bahasa seperti apa yang yang akan dipakai.

Tema : tema kreatif yang akan dikembangkan dalam pencip[taan sebuah iklan

Konsep ide : hal yang mendasari idr, misalnya tematik, historis, relaistik, imajinatif.

Setelah brief kreatif tersusun, copywriter melanjutkannya ke dalam bentuk penyusunan headline, bodytex hingga flash jika itu iklan media cetak, script jika itu iklan radio dan televisi. Selanjutnya art director akan memberikan aspek visual dan layout pada rancangan yang telah dibuat copywriter tersebut.

Pada tahap kedua inilah seluruh ide dan rancangan yang merupakan jantung dari seluruh proses perumusan strategi kreatif dicetuskan dan dikembangkan. Biasanya untuk memperoleh hasil kerja yang optimal, dilibatkan pula suatu diskusi yang sangat hati-hati di antara orang kreatif, antara copywriter dan art director. Hasil dari tahap kedua ini adalah kopi untuk iklan media cetak, script untuk iklan radio, dan storyboard untuk iklan televisi.

Tahap Ketiga

Dalam sebuah biro iklan, langkah terakhir yang dilakukan adalah presentasi di hadapan pengiklan untuk memperoleh persetujuan. Apabila telah disetujui, rancangan iklan tersebut diproduksi dan dipublikasikan melalui media-mesia yang telah ditetapkan.

Latihan

1. Jelaskanlah makna kreatif dalam dunia pembuatan iklan.

2. Jelaskanlah tahap-tahap proses kreatif dalam pembuatan iklan.

3. Mengapa seorang copywriter perlu menguasai marketing brief?

4. Mengapa seorang copywriter perlu melakukan reaserch sebelum menentukan

konsep iklan?

5. Cobalah Anda secara berkelompok memilih sebuah produk untuk dibuat

iklannya.

6. Lakukanlah reasearch sederhana mengenai produk tersebut.

7. Buatlah kreatif brief untuk merencanakan pembuatan iklan produk tersebut.

Hasil kreatif brief, silakan dikirim ke web: peni-usd.vox.com

Ringkasan

Proses kreatif mencakup pelaksanaan dan pengembangan konsep ide strategi pasar suatu produk ke dalam bentuk komunikasi yang efektif. Proses kreatif ini meliputi pembuatan headline, perwajahan, naskah; baik dalam bentuk kopi untuk iklan media cetak, script untuk iklan radio, dan storyboard untuk iklan televisi.

Proses kreatif pembuatan iklan terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama, seorang copywriter harus menguasai marketing brieft dan melakukan research untuk menentukan target audience dan strategi dasar media. Tahap kedua, copywriter mengungkapkan konsep iklan suatu produk ke dalam bentuk

1) kopi untuk iklan media cetak, 2) script untuk iklan radio, dan 3) storyboard untuk iklan televisi. Pada tahap inilah ide-ide yang merupakan jantung dari seluruh proses perumusan strategi kreatif dicetuskan dan dikembangkan. Biasanya untuk memperoleh hasil kerja yang optimal, dilibatkan pula suatu diskusi yang serius dan hati-hati di antara orang kreatif, antara copywriter dan art director. Tahap ketiga, mempresentasikan hasil kerja pada tahap kedua, dihadapkan pengiklan.

Tes Formatif

1. Konsep kreatif dalam dunia iklan, mengacu pada pengertian, kecuali:

A. dipakai untuk tujuan positif dan juga negatif

B. suatu kemampuan seseorang yang memungkinkan ia menemukan pendekatan-pendekatan atau terobosan baru dalam menghadapi situasi atau masalah tertentu

C. mencakup pelaksanaan dan pengembangan konsep ide yang dapat mengemukakan strategi pasar dalam bentuk komunikasi yang efektif.

D. Suatu kerja yang menghasilkan kopi untuk iklan media cetak, script untuk iklan radio, dan storyboard untuk iklan televisi.

2. Kerja kreatif seorang copywriting dan art director, akan menghasilkan:

A. bentuk kopi untuk iklan media cetak

B. script untuk iklan radio

C. storyboard untuk iklan televisi.

D. Headline, slogan, dan lay out dari sebuah iklan

3. Berikut ini merupakan hal-hal yang berkaitan dengan marketing brief , kecuali.

A. tagimat pemasaran

B. penjelasan mengenai data-data tentang produk, strategi pemasaran, dan persaingan di pasar

C. dibuat oleh biro iklan untuk menentukan konsep kreatif

D. dibuat oleh pengiklan untuk merancang strategi pemasaran.

4. Sebelum membuat konsep iklan, seorang copywriter harus melakukan

A. penelitian terhadap data produk yang akan diiklankan

B. melakukan presentasi kepada pengiklan

C. merancang konsep iklan bersama art director.

D. merancang strategi media.

1. Setelah orang-orang kreatif membenamkan diri dalam berbagai informasi mengenai data produk yang diiklankan, terdapat beberapa hal yang akan dihasilkan, yaitu kecuali

A. target audience

B. strategi dasar media

C. tema iklan

D. taglimat pemasaran

2. Apabila dalam reasearch yang dilakukan, seorang copywriter menemukan adanya kelemahan produk yang akan diiklankan dibandingkan produk komptetitor, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, kecuali

A. mencari kompensasi kelemahan produk yang diiklankan

B. mengungkapkan yang tidak sebenarnya dalam rangka menunjukkan selling point produk

C. memaksimalkan kelebihan

D. meminimalkan kekurangan

3. Kegunaan kreatif brief adalah:

A. menjadi acuan kerja semua orang dalam depertemen kreatif

B. menjadi kontrol bagi klien kepada biro iklan

C. materi untuk mencari peluang media

D. menjadi dasar kerja copywriter

4. Brief Kreatif dibuat oleh:

A. Pengiklan

B. Biro iklan
C. Copywriter

D. Brainstroming antara Departemen Layanan Service dan Departemen Kreatif

5. Brief Kreatif berisi hal-hal sebagai berikut, kecuali.

A. gambaran proyek dan tim kerja

B. produsen

C. identitas produk

D. konsumen

6. Setelah rancangan iklan selesai dibuat, hal yang segera dilakukan adalah:

A. mencetaknya

B. merekamnya untuk iklan radio

C. membuat shooting dengan aktor

D. mempresentasikan di hadapan klien

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap Kegiatan Belajar dalam modul ini.

Rumus1

Arti tingkat penguasaan: 90-100% = baik sekali

80-89% = baik

70-79% = cukup

< 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar ini, terutama bagian yang belum dikuasai.

SUMBER PUSTAKA

Agustrijanto, 2002. Copywriting. Bandung Rosda.

Hakim, Budiman, 2006. Lanturan tapi Relevan. Yogyakarta: Galang

Kasali, Renald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di

Indonesia. Jakarta: Grafiti

Madjadikara, Agus S. 2004. Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan. Jakarta:

Gramedia.

Sutherland, Max dan Alice K. Sylvester. Advertising and the Mind of the

Consumer. Jakarta: PPM

Trisnanto, Adhy. 2007. Cerdas Beriklan. Yogyakarta: Galang
Kunci Jawaban

1. A. Alasan cukup jelas

2. D. Alasan: Headline, slogan, dan lay out hanyalah sebagian dari kerja tim

kreatif. Secara keseluruhan mereka harus menghasilkan bentuk kopi untuk

iklan media cetak, script untuk iklan radio, dan storyboard untuk iklan

televisi.

3. C. Alasan: cukup jelas

4. A. Alasan: cukup jelas

5. D. Alasan: taglimat pemasaran adalah marketing brief yang dibuat oleh

klien/pengiklan bukan oleh copywriter

6. B. Alasan: cukup jelas.

7. A. Alasan: cukup jelas

8. D. Alasan: cukup jelas

9. B. Alasan: cukup jelas

10. D. Alasan: rancangan iklan harus disetujui oleh klien sebelum dibuat bentuk finalnya.

Fungsi Produser

July 3, 2009

350px-ProduksidiborobudurProduser adalah seseorang yang bertanggungjawab secara umum terhadap seluruh plaksanaan produksi. Produksi yang dimaksud biasanya berkaitan dengan produk audio visual antara lain produksi siaran radio, rekaman musik atau lagu, film, iklan, dan program TV.

Fungsi produser
Secara umum, fungsi produser di berbagai bidang ini berbeda satu sama lainnya. Dalam produksi siaran radio misalnya, produser kerap kali melakukan pekerjaan bersifat teknis mulai dari mengumpulkan bahan siaran hingga meramunya menjadi satu program layak siar. Untuk bidang televisi dan film fungsi produser bisa dibilang serupa. Namun, ada perbedaan peran produser pada produksi siaran televisi dan film. Dalam produksi siaran televisi, produser merupakan individu yang layak mendapat pujian terhadap satu program sebagai satu hasil karya. Sementara dalam produksi film, pujian tersebut biasanya diberikan kepada sutradara. dalam produksi televisi seorang produser lebih terlibat pada saat Pra Produksi. Kadang memang banyak orang sulit untuk membedakan fungsi antara produser dan sutradara, karena memang beda tipis. Sebenarnya fungsi produser dan sutradara hampir sama. Hanya saja yang membedakan ialah seorang produser lebih terlibat saat praproduksi dan sutradara itu pada saat pelaksanaan produksi.

reference : film wikipedia
by putri dwi f

Perencanaan Liputan Jurnalistik merupakan hal pokok yang wajib dilakukan oleh seorang jurnalis. Ada pepatah: “Gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan”. Maka dari itu, untuk mencegah kegagalan ada hal-hal pokok yang yang harus dipersiapkan oleh seorang jurnalis. Yang pertama adalah :

1. Mental
Mental mencakup niatan yang kuat untuk mencapai sesuatu. Untuk melakukan liputan seorang wartawan/jurnalis haruslah memilki mental yang siap. Dalam arti siap segala-galanya. Kadangkala dalam melakukan liputan ada seorang jurnalis yang belum siap mentalnya, maka saat dia menunggu selama berjam- jam lamanya di depan gedung KPK (Komisi Pemberantasana Korupsi) ataupun di depan Gedung Bundar Kejaksaan Agung, maka sang jurnalis tersebut sudah merasa tidak betah dan mengeluh.

Padahal, sepanjang pengalaman penulis selaku wartawan dan mengamati kinerja rekan wartawan yang lain, diketahui hampir 70 persen pekerjaan wartawan dilakukan di lapangan. Mencari berita seringkali mengharuskana kita menunggu berjam-jam di sebuah pos liputan yang ditentukan ataupun target target liputan yang sudah direncanakan bersama oleh kantor redaksi. Contoh: Menunggu berjam jam di depan kantor Bareskrim Mabes Polri di Jl Trunojoyo, Jakarta sudah merupakan bagian dari keseharian tugas wartawan yang mendapat pos liputan di lingkungan Mabes Polri. Menunggu di depan kantor Bareskrim pada kenyataannya selalu lebih efektif daripada hanya menunggu berita sambil duduk-duduk santai di kantor Humas Mabes Polri. Karena baik tersangka, atau pengacara yang berkaitan dengan kasus besar selalu bisa ditemui.

Contoh yang lainnya adalah saat wartawan menanti masuk serta keluarnya para tersangka yang ditangkap oleh KPK. Sudah lazim apabila KPK memeriksa tersangka hingga 12 jam lamanya. Maka selama itu pulallah, apabila tidak ada pergantian shift- maka seorang jurnalis harus siaga di depan kantor KPK, agar tidak kehilangan momen penting. Kemudian contoh yang masih segar dalam ingatan kita, ketika ratusan wartawan menunggu dengan “harap-harap cemas” di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), saat mantan Preasiden Soeharto sedang dalam kondisi kritis, hingga akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir. Tak ayal, semua hal itu membuat wartawan selalu siaga 24 jam. Karena berita mengejutkan bisa muncul pada waktu- waktu yang “berat”, seperti tengah malam hingga menjelang dini hari. Untuk itu dengan persiapan mental sebaik- baiknya dapat mendukung pula kesiapan fisik, untuk tugas yang tak terduga.

2. Yang kedua adalah persiapan materi pertanyaan serta bahan- bahan pendukung untuk melakukan wawancara, dan mengajukan pertanyaan kepada pihak- pihak yang berkompeten dalam penanganan sebuah masalah. Hindari mencari keterengan yang “asal dapat” dari orang- orang yang kurang penting seperti misalnya, kepada seorang staf Humas yang kurang berpengalaman ataupun kepada orang- orang yang memang kurang paham terhadap situasi yang sedang berkembang. Misalnya saat wartawan menunggu di KPK, tentu saja tidak mungkin menanyai kepada staf- staf biasa KPK yang tugasnya hanya administrasi. Carilah orang -orang kunci yang berwenang memberi informasi.

3. Persiapan yang ketiga bagi jurnalis, yakni biasakan mencari safe passage in and out atau jalan masuk dan keluar yang cepat dan aman dalam setiap masalah. Bila kita meliput dalam sebuah gedung ataua kantor maka hal tersebut bukan masalah, namun bila anda meliput sebuah kerusuhan atau konflik, maka carilah jalan masuk dan keluar yang aman dan sudah anda kenal sebelumnya. Jangan sampai terjebak pada situasi yang tidak menguntungkan. Ingat ada pepatah dalam jurnalisme yang berbunyi “Tidak ada sebuah berita yang terlampau bagus jika wartawan harus mengorbankan nyawanya,” (BBC-Panduan Jurnalis 2001). Karena bisa-bisa wartawan itu sendiri yang menjadi bahan berita karena tewas saat meliput.

4. Guiding Technique : Jika akan meliput di tempat yang jauh misal luar kota atau luar negeri, maka ada persiapan- persiapan ekstra. Antara lain yang umum dilakukan adalah mendapatkan cetakan buku guide ataupun justru mendapatkan guide itu sendiri. Guide lazim diperlukan jurnalis, saat meliput di negri/ tempat asing yang rawan konflik. Biarpun tidak bisa menjamim aman 100 % dari resiko penyanderaan dan resiko lain, namun lebih baik ditemani pemandu daripada tidak sama sekali. Dengan pemandu, kendala bahasa, lokasi, dan nilai tukar uang bisa teratasi.

5. Terutama untuk wartawan yang meliput konflik maka persiapan juga mencakup karakteristik kerawanan daerah (kakerda), P3K (emergency), dan mendapatkan pelatihan khusus untuk meliput di hostile area atau daerah rawan. Seringkali bahaya bisa berupa perang, kerusuhan, demontrasi, atau bahkan bencana alam semisal :tsunami, gempa bumi dan Gunung meletus. Contohnya ketika wartawan meliput kondisi siaga di Gunung Merapi, Jawa Tengah, maka karakteristik kerawanan Gunung bisa diperoleh dari pos pemantau, atau bertanya pada Mbah Maridjan selaku ahli tradisional Gunung Merapi, mempersiapkan P3K guna mengantisipasi asap atau bahkan awan panas (wedhus gembel), dan panduan meliput pada hostile area pun juga masih berlaku. Beberapa wartawan asing senantiasa ingin mencapai titik terdekat dari kondisi bahaya. Namun hal ini harus pula disertai dengan akal sehat. Biarpun tidak ada yang berhak melarang seorang wartawan untuk nekat meliput hingga mendekati titik bahaya.

reference : the journalist
by putri dwi febriana

WRITING A DOCUDRAMA FOR TELEVISION

1. Docudramas are a staple of television movies
2. A docudrama is a dramatization based or inspired by a true-life story
3. When a project is submitted to a network, it will first go to the programming departement
4. If a TV docudrama claims to be the true story or based on a true story, it’s important that it really be true to the facts
5. Audiences like true story
6. If chronology doesn’t influence cause and effect, you can make some changes in the way you tell your story
7. When people in broadcast standards look at a docudrama, they add up the number of total ingredients
8. Under certain circumstances you can also make changes in scenes
9. The broadcast standards departement also approves composite characters-combining two or more characters into one
10. When doing a composite character it is not acceptable to obtain a release from only one of the subjects-it must be all or none
11. A network’s broadcast standards and practices department prints guidelines that are issued to producers
12. When you write these scene, you are creating building blocks of proven information
13. You are trying to balance the number of elements in the scene that you can document with elements you create
14. Use time compression to tighten
15. Generally, major characters whose story lines constitute a recurring element in the script must not be composite characters
16. Events may be telescoped, but events that never occurred cannot be invented, telescoped events must be chronologically accurate
17. If a narrator is used, his or her statements must be objective without providing commentary or editorialization
18. Need to researrch which television producers have done films such as yours
19. Dates and passages of time must be clearly indicated in the script, either in dialogue, by supers, dissolves, or other visual techniques
20. During a war, the networks might be looking for more entertaining stories

reference book animasion from siti nur aisyiyah
by putri dwi febriana