Prinsip-Prinsip Editing

July 3, 2009

PRINSIP-PRINSIP EDITING

 Jangan menyambung 2 shot dari obyek yang sama dalam format yang sama besarnya (jenis shot yang sama). Dua shot yang berurutan dengan format yang sama besar sering menghasilkan jump cut. Misalnya cutting dari Medium Shot (MS) ke Medium Shot (MS). Atau dari Long Shot (LS) ke Long Shot (LS) pada obyek yang sama. Apabila menyambung satu shot ke shot berikutnya, hendaknya shot kedua diambil dengan framing yang berbeda dari camera angle yang berbeda pula. Perubahan camera angle akan membantu mencegah jump cut.

 Walaupun esensi dari televisi adalah penyajian gambar dengan close up, jangan mengabaikan fungsi long shot. Terlalu banyak close up akan membosankan juga. Karena mata butuh pergantian suasana. Disamping itu, dengan long shot yang mengambarkan keseluruhan setting penonton akan memperoleh gambaran tempat dimana peristiwa itu terjadi.

 Sesudah beralih ke suatu adegan baru, berilah Long shot dari adegan tersebut. Ini akan memberi penjelasan kepada penonton dimana peristiwa itu terjadi.

 Begitu juga apabila “tokoh baru” masuk atau “tokoh” yang agak lama tidak muncul, buatlah close up dari “tokoh” itu. Apabila ada satu tokoh baru masuk, penonton secara naluri ingin tahu siapa dia, seperti apa dia ?

 Jangan menyambung 2 shot dari obyek yang sama dalam jarak yang ekstrim. Misalnya cutting dari Extreme Long Shot (ELS) ke Extreme Close Up (ECU), hal ini akan membuat penonton sulit mengenali obyek yang kita maksudkan. Perpindahan dari ELS ke ECU apabila dilakukan dengan zoom in akan mudah diikuti oleh penonton.

 Hal yang sama akan terjadi apabila kita membuat cutting dengan perpindahan camera angle yang ekstrim, sehingga menyebabkan penonton kebingungan dengan arah pandangan yang berlawanan dari obyek yang sama. Shot-shot ini biasanya dihasilkan oleh camera angle yang berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain dari “garis axis”. Garis axis adalah garis imajiner yang menghubungkan 2 orang yang saling berhadapan. Gerakan dengan arah tertentu juga akan membentuk garis imajiner. Misalnya untuk menyambung close up atau pun over shoulder shot dari satu orang ke orang lainnya yang saling berhadapan kita tempatkan kamera pada salah satu sisi dari garis axis tadi. Cara ini adalah untuk menghindari “crossing the line”

 Jangan memotong ditengah-tengah shot pada saat kamera bergerak (panning atau zooming). Sambunglah di titik awal atau akhir dari panning atau zooming (saat kamera berhenti). Tetapi kadang-kadang goyangan dari pan atau zoom dapat digunakan sebagai titik editing.

 Jangan membuat cutting diantara dua kamera yang bergerak terutama kamera panning, atau diantara satu kamera yang bergerak dan kamera statis. Cut diantara 2 kamera yang bergerak membuat efek yang tidak enak bagi mata. Kekecualian dalam hal ini apabila kedua kamera panning dengan arah dan kecepatan yang sama. Misalnya cut dari panning shot sebuah mobil yang berjalan dengan kecepatan dan arah tertentu ke panning shot sebuah mobil lain yang berjalan dengan kecepatan dan arah yang sama. Atau cut dari long shot mobil yang berjalan ke close shot mobil yang sama. Kekecualian yang lain adalah cutting ke camera panning dalam action yang bergerak dengan cepat. Ini cenderung untuk meningkatkan tempo dan perhatian. Tentu saja ini hanya dilakukan dalam situasi tertentu.

 Lakukanlah selalu cut on movement (cut gerakan) : cutiing pada saat obyek dalam gerakan (acting) duduk, bangkit, berbalik, memutar. Bahkan dalam close up cutting akan lebih baik di saat kepala sedang bergerak, menengok, mengangguk misalnya. Buatlah cut selama saat gerakan obyek jangan sebelum atau sesudahnya. Misalnya : jika kita telah membuat close up dari seseorang yang baru bersiap-siap untuk berdiri dari kursi, buatlah cutting shot yang lebih besar (long shot) tepat sesudah dia mulai berdiri, bukan sebelum dia berdiri. Suatu cut dari obyek yang bergerak apabila dikerjakan secara tepat akan nampak halus dan tidak akan dirasakan oleh penonton. Cut diantara obyek-obyek statis cenderung lebih mengganggu daripada apabila salah satunya dalam gerakan.

 Dalam suatu interview, cut biasanya kita lakukan pada akhir dari pertanyaan atau jawaban, karena cutting pada akhir dari suatu kalimat atau prasa (anak kalimat akan menghasilkan suatu irama yang jelas daripada ditengah-tengah. Walaupun demikian, reaction shot akan lebih halus apabila terjadi selama dialog, lebih baik daripada akhir ucapan atau kalimat. Dalam hal ini, jika seseorang bergerak sambil mengucapkan dialog, buatlah cut on movement. Jangan tunggu sampai pemain menyelesaikan satu kalimat. Cut on movement dari action biasanya lebih kuat motivasinya daripada cut on dialog.

 Buatlah cut, dissolve (mix) dan fade, sesuai dengan irama musik atau komentar, buatlah cut atau fade out musik hanya pada akhir kalimat musik, jangan ditengah-tengah. Sangat menyakitkan telinga apabila musik dihentikan sebelum irama dan tempo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: