Persyaratan kalimat atau kata dalam naskah

July 3, 2009

, ada persyaratan yang sebaiknya diperhatikan untuk dapat berkomunikasi dengan pemirsa dengan baik.
a. Gunakan ragam bahasa semiformal.
b. Gunakan kalimat peryataan yang pendek, aktif, dan logis. Sebaiknya, digunakan jeda untuk menyampaikan informasi secara jelas.
c. Gunakan pilihan kata yang bersifat umum agar pemirsa dapat dengan mudah mengikuti pembahasan dan tidak merasa digurui.
d. Hindari penggunaan kata yang memihak atau mengandung opini.
e. Sebutkan waktu, tanggal, dan nama hari dan hindari penggunaan kata kemarin, besok, lusa.
f. Sebut nama tokoh yang terlibat dalam suatu peristiwa. Jika tokoh itu memiliki jabatan atau gelar yang signifikan bagi berita itu, sebutkanlah jabatan atau gelar itu dengan jelas.
g. Jika informasi yang diperoleh dan sumber lain, letakkan informasi
h. Buatlah alur berita yang seksama, akurat, berkaitan, dan wajar.

RAGAM BAHASA SEMIFORMAL
Oleh karena bersifat percakapan, penyampaian berita dilakukan dengan mengandaikan bahwa penulis sedang bercerita pada seorang teman. Dengan demikian, ragam bahasa yang digunakan tidak dapat sepenuhnya bersifat formal. Bahasa yang formal akan melelahkan dan membosankan bagi pemirsa karena jauh dari sifat akrab. Sebaliknya, bahasa yang nonformal akan membatasi penyebaran pemirsa pada kelas tertentu. Jadi, ragam yang dianut oleh berita televisi adalah ragam semistandar. Ragam semistandar ditandai oleh hal-hal sebagai berikut.
a. Penggunaan kalimat yang tidak lengkap.
b. Penggunaan kosakata lisan, seperti bisa, cuma, tapi, dan sebagainya.
c. Penghilangan konjungsi dan preposisi di bagian-bagian tertentu, misalnya kata sambung seringkali diganti oleh jeda, seperti kata bahwa dalam kalimat kutipan tidak langsung. Contoh: Gus menyatakan, ia akan menuntut KPU.
d. Paragraf boleh terdiri atas sebuah kalimat.

KALIMAT PENDEK, AKTIF, DAN LOGIS.
Salah satu idiom yang terkenal di dunia jurnalistik adalah KISS, “Keep It Short and Simple”. Bahasa jurnalistik harus pendek dan jelas. Ketentuan ini juga berlaku untuk berita televisi, apalagi dalam berita televisi, kita ditunjang oleh aspek visual. Makin sederhana sebuah kalimat makin baik, makin pendek sebuah kalimat makin baik, bahkan, kalimat tidak lengkap diperbolehkan sepanjang keterpaduannya dalam penulisan berita cukup jelas.
Berapakah jumlah kata yang sebaiknya membentuk kalimat yang pendek? Dalam buku Vademekum Wartawan (1997: 188 ) dikatakan bahwa sedapat mungkin digunakan kalimat pemyataan yang sederhana, yaitu tidak lebih dari 20 kata. Mencher (1997: 165) mengajukan sebuah label yang mengungkapkan keterkaitan antara panjang kalimat dan keterbacaannya.

Panjang Kalimat Keterbacaan
8 kata atau kurang Sangat mudah dipahami
11 kata Mudah dipahami
14 kata Agak mudah dipahami
17 kata Standar
21 kata Agak sulit dipahami
25 kata Sulit dipahami
29 kata atau lebih Sangat sulit dipahami

Dalam bahasa Indonesia, belum diadakan penelitian yang dipublikasikan berkaitan dengan panjang kalimat ini. Kelogisan berkaitan dengan paduan kata, misalnya
• Singa yang satu ini sangat berambisi terhadap mangsanya. (TV7)
• Ledakan berasal dari mesjid di gedung KPU. (Radio Elshinta)
• Selain mengundang selera, jajanan semacam ini juga lumayan terjangkau saku anak-anak. Paling mahal, harga setiap porsinya dipatok sekitar tiga ribu rupiah. (TV7)

PILIHAN KATA YANG UMUM.
Ada dua hal penting yang patut mendapat perhatian kita berkaitan dengan pilihan kata, yakni ketepatan pilihan kata dan kesesuaian pilihan. Ketepatan pilihan kata berkaitan dengan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. Kesesuaian pilihan kata berkaitan dengan penggunaan kata untuk mengungkapkan gagasan dengan cara yang dicocokkan dengan kesempatan dan lingkungan yang dihadapi. Untuk dapat melakukan pilihan kata dengan baik, seseorang harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam hal mengetahui berbagai hal berikut ini.

a. Kata umum dan kata khusus. Untuk mencapai pengertian yang tepat sebaiknya digunakan kata khusus yang akan mengungkapkan makna secara lebih jelas. Nama diri merupakan kata yang sangat khusus. Kata khusus digunakan untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca dan untuk membangkitkan sugesti dalam diri pembaca. Misalnya, berjalan perlahan-lahan dengan tertatih; orang miskin dengan gelandangan.
b. Kata indria. Untuk dapat menyajikan berita yang bersifat faktual, alat bahasa yang paling tepat adalah kata-kata indria. Kata-kata itu menyatakan pengalaman yang dicerap oleh pancaindera: penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman. Kata-kata indria ini merupakan kata-kata yang membantu kelancaran penulisan deskripsi secara akurat.
c. Kata standar, semistandar, dan nonstandar. Penggunaan kata standar, semistandar, dan nonstandar berkaitan dengan siapa yang menjadi pembaca atau pendengar. Pengetahuan penulis dan pembicara akan situasi juga akan mempengaruhi pilihan katanya. Misalnya, pemakaian kata ganti saya, aku, atau gue sangat bergantung pada situasi dan kepada siapa kita berbicara.
d. Kata populer dan kata ilmiah. Kosa kata suatu bahasa, pada umumnya, terdiri atas kata-kata yang sering digunakan oleh penuturnya. Kata-kata akan digunakan dalam komunikasi sehari-hari oleh semua lapisan masyarakat. Namun, ada pula sejumlah kata yang hanya digunakan dalam komunikasi ilmiah: dalam diskusi, pertemuan resmi, pengajaran. Umumnya, kata-kata ilmiah itu diserap dari bahasa asing. Ada yang dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia (supervisi dengan penyelia) dan ada pula yang disesuaikan dengan struktur kata bahasa Indonesia (formation dengan formasi).
e. Jargon. Jargon adalah kata-kata teknis dalam suatu bidang ilmu tertentu dan sering kali bertumpang tindih dengan pengertian istilah. Jargon merupakan bahasa atau kata yang khusus sekali. Oleh karenanya, pemakaian jargon dalam laras jurnalistik harus dihindari. Jika pemakaiannya tidak dapat dihindari, penulis harus menjelaskan arti kata tersebut.
f. Kata percakapan. Bahasa percakapan tidak selalu identik dengan bahasa nonstandar. Kata percakapan adalah kata-kata yang dapat digunakan dalam ragam lisan, tetapi tidak dapat digunakan dalam ragam tulis. Masalahnya, sekarang adalah bahwa tidak semua penutur bahasa Indonesia dapat membedakan kedua ragam ini. Perbedaan laras jurnalistik dan laras iklan dari laras-laras lain, dalam hal ini, adalah bahwa kedua laras ini menyajikan ragam lisan dalam bentuk ragam tulis. Akibatnya, ada banyak kata percakapan yang digunakan dalam bentuk tulis, misalnya tapi seharusnya tetapi, bisa seharusnya dapat.
g. Kata Slang. Kata-kata slang adalah kata-kata percakapan yang menjurus ke arah nonstandar yang disusun secara khas, seperti bahasa prokem atau bahasa gaul. Biasanya, muda-mudi selalu berusaha untuk menggunakan bahasa dengan cara-cara baru atau dengan arti baru, termasuk di dalamnya penggunaan akronim dan kata umum, misalnya benci menjadi benar-benar cinta. Kelemahan dan kata-kata slang ini adalah hanya sedikit yang bertahan lama dan kata-kata slang selalu menimbulkan ketidaksesuaian. Kata slang yang pada suatu waktu tumbuh secara populer atau trendi, di saat lain akan segera hilang dan peredaran. Kesegaran dan daya gunanya hanya terasa pada saat pertama kali kata itu digunakan.
h. Idiom. Idiom bukan hanya peribahasa. Peribahasa adalah salah satu bentuk idiom. Idiom adalah pola-pola bahasa (frase) yang menyimpang dan kaidah dan makna bahasa yang umum dan makna gabungannya tidak dapat diterangkan melalui makna kata pembentuknya. Contohnya, makan hati, banting tulang. Dalam hal ini yang harus diperhatikan pula adalah penggunaan kata depan yang dilekatkan secara idiomatis kepada kata kerja tertentu, berharap akan, berbahaya bagi, selaras dengan, terdiri atas, waspada terhadap.

KATA TIDAK MENGANDUNG OPINI.
Dalam menyusun berita, baik berita untuk media cetak maupun elektronik, kata yang dipilih tidak boleh mengandung opini atau simpulan dari penulis berita. Misalnya, penggunaan kata cantik menjadi simpulan atau opini karena kata cantik sangat relatif. Ukuran cantik bagi setiap orang berbeda. Sebaiknya, penulis membuat deskripsi dari orang yang dianggap cantik itu. Dalam berita televisi, deskripsi ini menjadi lebih mudah karena adanya aspek visual. Contoh pilihan kata yang mengandung opini:
Bisnis busuk pria itu berjalan normal (TV7)
Aksi culas ini diduga keras dilakukan panitia pemungutan suara dan panitia pemilihan tingkat kecamatan setempat. (TV7)
Untuk menghindari kata yang beropini, penyebutan sumber informasi merupakan hal yang penting sebagaimana disebut di atas.

Permasalahan lain yang berkaitan dengan masalah penyebutan waktu, nama, dan jabatan atau gelar tokoh yang diliput, penyebutan sumber informasi, dan alur berita tidak akan diuraikan dalam bahasan ini.
reference bahasan media massa forum RCTI
by putri dwi f

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: